TVRINews, Poso
Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, sejak Juni 2026 mulai berdampak serius terhadap aktivitas warga di sekitar Danau Poso. Debit air danau purba tersebut dilaporkan menyusut hingga sekitar 200 meter dari garis pantai sebelumnya.
Penyusutan muka air danau membuat hamparan pasir putih di tepian Danau Poso semakin meluas. Kondisi ini sekaligus memicu persoalan baru bagi warga, khususnya petani yang selama ini mengandalkan air danau untuk mengairi lahan pertanian.
Danau Poso menjadi salah satu sumber air vital bagi petani di Desa Pamona, Kecamatan Pamona Puselemba. Saat musim tanam, warga menggunakan mesin pompa untuk menyedot air danau dan menyalurkannya ke area persawahan.
Namun, surutnya air membuat jarak antara sumber air dan lahan pertanian semakin jauh. Akibatnya, petani harus menambah panjang pipa sekaligus mengeluarkan biaya lebih besar untuk bahan bakar mesin pompa.
Salah seorang petani, Pendeta Imanuel Pasambaka, mengaku harus mengeluarkan biaya hingga Rp3 juta untuk mengairi lahan pertaniannya yang relatif sempit.
Sementara petani dengan lahan lebih luas dan lokasi yang lebih jauh dari danau bahkan harus mengeluarkan biaya operasional penyedotan air hingga Rp30 juta.
"Sekarang surutnya sudah sekitar 200 meter dari bibir danau. Kalau kemarau berlanjut dan curah hujan tetap rendah, surutnya bisa makin jauh sampai 500 meter," kata Imanuel saat ditemui di pesisir Danau Poso, Rabu, 2 September 2026.
Untuk menekan biaya operasional, warga terpaksa melakukan patungan selama musim tanam. Meski demikian, biaya produksi yang membengkak tidak sebanding dengan hasil panen akibat kondisi kekeringan.
Imanuel mengatakan, hasil panen petani mengalami penurunan drastis. Ia mencontohkan hasil panen saudaranya yang biasanya mencapai hingga 11 ton, kini hanya menghasilkan 12 karung.
"Hasil panen turun pak. Kakak saya yang biasanya bisa panen sampai 11 ton, musim ini hanya dapat 12 karung. Karena hasilnya tidak mencukupi biaya produksi, kami berencana tidak menjual dan memilih menyimpannya untuk konsumsi sehari-hari," tutur Imanuel.
Pemda Usulkan 21 Titik Irigasi Air Tanah
Krisis air yang terjadi di wilayah Pamona Puselemba turut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Poso.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Poso Mustofa A Tohan mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan instansi teknis untuk mencari solusi jangka panjang bagi kebutuhan air pertanian warga.
Pemerintah daerah, kata dia, telah mengusulkan pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III.
"Kami telah mengajukan usulan ke Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III untuk pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT). Rencananya, tahun ini akan dibangun sebanyak 21 titik di wilayah Kecamatan Pamona Puselemba," terang Mustofa.
Pembangunan jaringan irigasi air tanah tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif sumber air bagi petani ketika debit Danau Poso terus menurun akibat kemarau.
Berpotensi Pengaruhi Produksi Listrik PLTA Poso
Dampak kemarau panjang tidak hanya dirasakan sektor pertanian. Penurunan muka air Danau Poso juga berpotensi memengaruhi sektor energi, khususnya operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso di Desa Sulewana.
Manajemen PT Poso Energy mengonfirmasi bahwa penurunan curah hujan di daerah tangkapan air atau catchment area telah menyebabkan elevasi muka air Danau Poso berada pada titik yang lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pola operasi waduk. Meski demikian, perusahaan memastikan pasokan energi listrik saat ini masih dapat terpenuhi sesuai target perencanaan.
"Pasokan energi masih terpenuhi dengan asumsi periode akhir Oktober hingga Desember mulai memasuki musim hujan dengan intensitas di atas normal. Namun, jika intensitas hujan tetap di bawah normal, produksi pasokan listrik dipastikan akan berkurang," tulis Manager PT Poso Energy, Asmaruddin, dalam keterangan resminya kepada tvrinews.com, dikutip Rabu, 2 September 2026.









